bacakoran.co

Mal dan Pasar di Bandung Sepi Pengunjung, Ini Penyebab Utamanya!

Fenomena sepinya pengunjung di berbagai mal dan pasar di Bandung menjadi sorotan publik. --Youtube-CNN Indonesia

BACA JUGA:Viral! Murid SMA di Bandung Barat Diberi Soal Ujian Biologi Gambar Alat Kelamin, Guru Unggah Klarifikasi

BACA JUGA:RSHS Bandung Buka Posko Pengaduan, Kasus Dokter PPDS Unpad: 3 Korban Buka Suara

Bahkan saat liburan, lonjakan pengunjung hanya bersifat sementara dan tidak cukup untuk mengangkat omzet para tenant.

Fenomena Rojali dan Rohana

Fenomena unik yang turut memperparah kondisi mal adalah munculnya kelompok rojali (rombongan jarang beli) dan rohana (rombongan hanya nanya-nanya).

Mereka datang ke mal hanya untuk melihat-lihat atau bertanya tanpa niat membeli.

BACA JUGA:Satpam RSHS Bandung Bikin Geram Netizen, Tampak Singgung Korban Pelecehan Seksual Hingga Disebut Biadab

BACA JUGA:Bikin Malu Pontianak! Setelah Kasus Audrey, Kini Giliran Dokter Priguna di Bandung Dugaan Kasus Rudapaksa

Hal ini membuat para pedagang kewalahan karena harus melayani tanpa ada transaksi nyata.

Upaya Pemerintah dan Pengelola Mal

Melihat kondisi ini, Pemkot Bandung tak tinggal diam.

Disdagin berencana menggelar berbagai event menarik seperti pasar kreatif dan Bandung Great Sale untuk menghidupkan kembali suasana mal.

BACA JUGA:Viral Video Selebgram Asal Bandung Jadi Korban KDRT Suami Sejak 2023, Pelakunya Diduga Anak Pejabat!

BACA JUGA:Rumah Dinas Jenderal TNI AU di Bandung Diduga Dirusak Massa Demo, Netizen Skeptis: Masuk ke Komplek TNI Susah

Selain itu, pelaku UMKM akan diberi ruang untuk memamerkan produk mereka di mal, sebagai strategi meningkatkan daya tarik dan keramaian.

Tantangan dan Harapan

Meski tantangan besar membayangi, mal tetap memiliki keunggulan yang tak bisa digantikan oleh platform online pengalaman belanja langsung, interaksi sosial, dan kualitas produk yang bisa dirasakan secara fisik.

Harapannya, dengan kolaborasi antara pemerintah, pengelola mal, dan pelaku usaha, pusat perbelanjaan di Bandung bisa kembali menjadi destinasi favorit masyarakat.

Mal dan Pasar di Bandung Sepi Pengunjung, Ini Penyebab Utamanya!

Puput

Puput


bacakoran.co - bandung kota yang dulu dikenal sebagai surga belanja dan destinasi wisata belanja favorit di indonesia, kini menghadapi kenyataan pahit:  tradisionalnya semakin sepi pengunjung.

pemandangan , lorong-lorong lengang, dan pedagang yang hanya bisa menunggu tanpa kepastian menjadi gambaran yang kian umum di berbagai pusat perbelanjaan kota ini.

apa yang sebenarnya terjadi?

perubahan pola belanja: online lebih praktis

salah satu penyebab utama sepinya mal di bandung adalah peralihan gaya belanja masyarakat ke platform .

dengan kemudahan akses, beragam promo, dan pengiriman cepat, belanja online menjadi pilihan utama banyak orang. 

selain itu, daya beli masyarakat yang menurun turut memperparah kondisi.

menurut kepala disdagin kota bandung, ronny ahmad nurdin "penurunan kunjungan bukan karena harga barang di mal mahal, melainkan karena masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan uangnya.

bahkan saat liburan, peningkatan pengunjung hanya bersifat sementara dan tidak cukup untuk menghidupkan kembali geliat ekonomi pusat perbelanjaan," ujarnya.

daya beli menurun

tak hanya soal kenyamanan, penurunan daya beli masyarakat juga menjadi faktor signifikan.

kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat konsumen lebih selektif dalam membelanjakan uangnya.

bahkan saat liburan, lonjakan pengunjung hanya bersifat sementara dan tidak cukup untuk mengangkat omzet para tenant.

fenomena rojali dan rohana

fenomena unik yang turut memperparah kondisi mal adalah munculnya kelompok rojali (rombongan jarang beli) dan rohana (rombongan hanya nanya-nanya).

mereka datang ke mal hanya untuk melihat-lihat atau bertanya tanpa niat membeli.

hal ini membuat para pedagang kewalahan karena harus melayani tanpa ada transaksi nyata.

upaya pemerintah dan pengelola mal

melihat kondisi ini, pemkot bandung tak tinggal diam.

disdagin berencana menggelar berbagai event menarik seperti pasar kreatif dan bandung great sale untuk menghidupkan kembali suasana mal.

selain itu, pelaku umkm akan diberi ruang untuk memamerkan produk mereka di mal, sebagai strategi meningkatkan daya tarik dan keramaian.

tantangan dan harapan

meski tantangan besar membayangi, mal tetap memiliki keunggulan yang tak bisa digantikan oleh platform online pengalaman belanja langsung, interaksi sosial, dan kualitas produk yang bisa dirasakan secara fisik.

harapannya, dengan kolaborasi antara pemerintah, pengelola mal, dan pelaku usaha, pusat perbelanjaan di bandung bisa kembali menjadi destinasi favorit masyarakat.

fenomena ini menjadi pengingat bahwa dunia retail sedang mengalami transformasi besar.

jika mal dan pasar ingin tetap relevan, mereka harus beradaptasi dengan tren digital, menciptakan pengalaman belanja yang unik, dan membangun koneksi emosional dengan konsumen.

untuk mengembalikan kejayaan mal dan pasar tradisional di bandung, dibutuhkan pendekatan yang lebih adaptif dan inovatif.

pengelola harus memahami tren digital, menciptakan pengalaman belanja yang unik, serta menggandeng komunitas lokal agar mal tidak hanya menjadi tempat belanja, tetapi juga ruang sosial dan budaya.

dengan langkah-langkah strategis dan kolaboratif, bukan tidak mungkin bandung akan kembali menjadi kota dengan pusat perbelanjaan yang ramai dan berdaya saing tinggi.

transformasi ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang menjaga denyut kehidupan kota dan memperkuat ekonomi lokal.

Tag
Share