bacakoran.co - bandung kota yang dulu dikenal sebagai surga belanja dan destinasi wisata belanja favorit di indonesia, kini menghadapi kenyataan pahit: tradisionalnya semakin sepi pengunjung.
pemandangan , lorong-lorong lengang, dan pedagang yang hanya bisa menunggu tanpa kepastian menjadi gambaran yang kian umum di berbagai pusat perbelanjaan kota ini.
apa yang sebenarnya terjadi?
perubahan pola belanja: online lebih praktis
salah satu penyebab utama sepinya mal di bandung adalah peralihan gaya belanja masyarakat ke platform .
dengan kemudahan akses, beragam promo, dan pengiriman cepat, belanja online menjadi pilihan utama banyak orang.
selain itu, daya beli masyarakat yang menurun turut memperparah kondisi.
menurut kepala disdagin kota bandung, ronny ahmad nurdin "penurunan kunjungan bukan karena harga barang di mal mahal, melainkan karena masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan uangnya.
bahkan saat liburan, peningkatan pengunjung hanya bersifat sementara dan tidak cukup untuk menghidupkan kembali geliat ekonomi pusat perbelanjaan," ujarnya.
daya beli menurun
tak hanya soal kenyamanan, penurunan daya beli masyarakat juga menjadi faktor signifikan.
kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat konsumen lebih selektif dalam membelanjakan uangnya.
bahkan saat liburan, lonjakan pengunjung hanya bersifat sementara dan tidak cukup untuk mengangkat omzet para tenant.
fenomena rojali dan rohana
fenomena unik yang turut memperparah kondisi mal adalah munculnya kelompok rojali (rombongan jarang beli) dan rohana (rombongan hanya nanya-nanya).
mereka datang ke mal hanya untuk melihat-lihat atau bertanya tanpa niat membeli.
hal ini membuat para pedagang kewalahan karena harus melayani tanpa ada transaksi nyata.
upaya pemerintah dan pengelola mal
melihat kondisi ini, pemkot bandung tak tinggal diam.
disdagin berencana menggelar berbagai event menarik seperti pasar kreatif dan bandung great sale untuk menghidupkan kembali suasana mal.
selain itu, pelaku umkm akan diberi ruang untuk memamerkan produk mereka di mal, sebagai strategi meningkatkan daya tarik dan keramaian.
tantangan dan harapan
meski tantangan besar membayangi, mal tetap memiliki keunggulan yang tak bisa digantikan oleh platform online pengalaman belanja langsung, interaksi sosial, dan kualitas produk yang bisa dirasakan secara fisik.
harapannya, dengan kolaborasi antara pemerintah, pengelola mal, dan pelaku usaha, pusat perbelanjaan di bandung bisa kembali menjadi destinasi favorit masyarakat.
fenomena ini menjadi pengingat bahwa dunia retail sedang mengalami transformasi besar.
jika mal dan pasar ingin tetap relevan, mereka harus beradaptasi dengan tren digital, menciptakan pengalaman belanja yang unik, dan membangun koneksi emosional dengan konsumen.
untuk mengembalikan kejayaan mal dan pasar tradisional di bandung, dibutuhkan pendekatan yang lebih adaptif dan inovatif.
pengelola harus memahami tren digital, menciptakan pengalaman belanja yang unik, serta menggandeng komunitas lokal agar mal tidak hanya menjadi tempat belanja, tetapi juga ruang sosial dan budaya.
dengan langkah-langkah strategis dan kolaboratif, bukan tidak mungkin bandung akan kembali menjadi kota dengan pusat perbelanjaan yang ramai dan berdaya saing tinggi.
transformasi ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang menjaga denyut kehidupan kota dan memperkuat ekonomi lokal.